Saturday, 23 September 2017

Ketulusan Pelaut

Kisah Cinta Pelaut Yang Tak Di Restui
Oleh : Curahan Hati Pelaut


Bismillaahirrahmaanirrahiim
"Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”

Alkhamdulilah ada kesempatan lagi buat ngeblog, kali ini cerita yang ditulis dari curahan hati seorang pria yang berprofesi menjadi pelaut, asli dari kisahnya yang ditulis sendiri oleh dia, dan dikirim email ke saya. semoga bermanfaat.

ni ceritanya, baca dan dipahami ya...



Sebuah kisah nyata yang menceritakan tentang asmara yang terkendala restu dari orangtua. Semoga bisa menjadikan pengingat, penyemangat, serta memotivasi diri kita.

— Ketika orangtuamu tidak merestui, aku belum disukai... —


Saat dipertemukan-Nya dengan wanita sepertimu sangat bersyukur diriku kepada-Nya. Bagiku, suatu anugerah yang tidak mungkin disesalkan atas nikmat-Nya. Dirimu sangat menginspirasi kehidupanku, yang menjadi penyemangat dalam segala aktifitas dan ibadahku kepada-Nya, setelah Ibuku. Banyak hidayah yang aku terima dari-Nya, Alkhamdulillah menjadikan pribadiku lebih bertanggungjawab dan lebih baik Insha'Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat-Nya.

Waktu terus berputar, dan kita menjalani atas Ridho-Nya. Semakin dekat perkenalan kita dan semakin banyak mengetahui sifat baik maupun kurang baik pada diri masing masing. Kita sangat optimis dalam menjalin komitmen, tidak mengikat dalam suatu hubungan seperti pada umumnya namun sangat terarah dalam tujuan hubungan yaitu hubungan yang Halal, pernikahan. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :
 "Nikahlah kamu sekalian dan perbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya aku berpacu sebab kalian, dengan umat-umat terdahulu dalam memperbanyak umat".
Begitu banyak nikmat-Nya yang kita syukuri, juga tidak sedikit ujian-Nya yang kita lalui. Kita sama sama manusia biasa, yang mempunyai tingkat kesabaran, kelemahan, serta kekuatan masing masing. Kita sama sama mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, dan saling mengisi satu sama lain, berusaha melawan keegoisan masing masing, dan selalu menyabarkan diri ketika salah satu dari kita tidak sependapat. Itulah kunci bagaimana menjaga hubungan yang berkualitas.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kita semakin dilarang oleh keluargamu. Aku memahami tentang kedudukan keluarga kita, sangat berbeda dikalangan masyarakat. Namun hal ini tidak mengurangi keyakinanku, selama apa yang kita lakukan adalah baik, dengan tujuan dan maksud baik, Insha'Allah ada pertolongan dari Allah SWT dalam niatanku menghalalkanmu. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :
 "Barangsiapa tidak menikah karena takut melarat, maka dia tidak tergolong umatku.' Dalam hadis lain, perawi menambahkan kalimat : 'Maka oleh Allah SWT mereka akan diserahkan kepada dua orang malaikat, yang akan menulis diantara kedua matanya, sebagai orang yang menyia-nyiakan anugerah Allah SWT."
Nabi Muhammad SAW bersabda :
 "Barangsiapa menikah karena menjaga diri maka bantuan (pertolongan) Allah pasti datang kepadanya."
Nabi Muhammad SAW bersabda lagi :
 "Barangsiapa menikah karena taat kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan dan memelihara kepadanya."
Akupun belum memahami dengan pasti, hal apa yang membuat orangtuamu begitu tidak menyukai tentangku, atau hal lainnya yang belum aku ketahui. Aku tetap optimis berfikir positif tentang kebaikan hubungan kita, aku selalu mengoreksi dan memperbaiki apa yang kurang dalam diriku, untuk agamaku, dunia dan akhiratku karena-Nya.

Saat kelemahan dan kelelahanmu telah tiba, aku dengan sabar memberi semangat dan keyakinan bahwa ini adalah sebagian dari rencana-Nya. Kita tetap percaya pada satu keyakinan, yaitu Kuasa Allah SWT. Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia Yang Maha Agung. Tetap menjadi pribadi yang baik, semakin bertaqwa kepada-Nya, dan selalu memberikan sikap yang baik kepada orangtua adalah hal wajib dipatuhi bagi kita sebagai anak yang berbakti kepada orangtua. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :
 "Keridhoan Allah terletak pada keridhoan orangtua, dan (sebaliknya) kemurkaan Allah (juga) kemurkaan orangtua." Kita sama sama menyayangi orangtua kita, orangtuamu adalah orangtuaku begitupun sebaliknya. Mereka adalah orangtua yang tidak ingin kita kecewakan. Namun, orangtua juga manusia yang tidak luput dari salah pemahaman. Maka sebaiknya lebih berhati hati dalam menyikapi persoalan ini, dan memperjuangkan hak kita yang telah dianugerahkan oleh-Nya yaitu kasih sayang dan cinta, serta selalu melibatkan agama Allah sebagai pedoman kehidupan yang Insha'Allah berkah di dunia dan akhirat. Seperti dalam firman Allah SWT :
 "Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan." QS. Luqman Ayat 22. Dalam persoalan ini adalah atas kehendak Allah SWT. Ia sangat mengasihi umatnya dengan memberikan ujian-Nya. Insha'Allah, Allah segera mengangkat derajat kita. Tidak mudah memang menghadapi ini, dengan ikhlas dan sabar kita menerima atas ketentuan-Nya. Selalu dzikir, berdoa, usaha, sabar, ikhtiar, melaksanakan ibadah disepertiga malam dengan sholat sunnah Tahajjud, dan Istikhoroh, dan memasrahkan segala urusan kita dengan ikhlas kepada-Nya. Karena hanya Allah SWT yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi dikemudian hari. Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada keluarga kita untuk menerima hubungan kita dan yakin Allah SWT memberikan petunjuk terbaik untuk kita.
Wallahu a'lam Bish Shawabi

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

No comments:

Post a Comment